Jumat, 15 Juli 2011

NEVER LET ME GO : Teriakan dalam Kebisuan Verbal

Sudah lama betul saya tak menikmati film bernas dan berbobot namun tak mengumbar banyak kata untuk menuturkan ide si pembuat film. Terakhir kali saya menonton film berkelas seperti itu adalah ketika menonton kumpulan film pendek Akira Kurosawa berjudul Dreams. Sayang, cd film itu turut menjadi korban banjir besar yang melanda Medan pada 1 Apri 2011 silam. Dan saya juga tak berharap mendapat sajian film setara dengan karya Kurosawa di film garapan Hollywood yang biasanya selalu royal menggunakan bahasa verbal.


Tentu saja, saya kemudian maklum kalau Never Let Me Go adalah adalah adaptasi dari novel berjudul sama karya penulis Jepang kelahiran Inggris, Kazuo Ishiguro. Nuansa sunyi dan alur cerita yang pelan adalah trade mark film dan novel klasik Jepang. Beberapa orang menganggap seting seperti itu benar-benar membosankan. Tapi buat saya, di situlah kedalaman berpikir dan berkesenian si penonton diuji. Setiap detail gambar adalah lukisan sarat makna. Ada tumpahan perasaan si tokoh yang ingin digambarkan oleh sutradara Mark Romanek dalam setiap detail scene. Mungkin karena Romanek berlatar belakang sebagai sutradara klip video musik, sehingga ia sangat fokus pada detail gambar. Dan karena itu pulalah, film ini tak mengumbar banyak bahasa verbal untuk menceritakan drama kehidupan yang rumit dan menguras emosi.

Secara keseluruhan, Never Let Me Go mengisahkan tiga peran sentral dalam alur cinta segi tiga, Kathy (Carey Mulligan-dewasa), Ruth (Keira Knightley-dewasa), dan Tommy (Andrew Garfield). Film ini dinarasikan oleh Kathy dengan alur maju-mundur, dimulai ketika ketiga tokoh ini masih anak-anak (Kathy oleh Isobel Meikle-Small, Ruth oleh Ella Purnell, dan Tommy oleh Charlie Rowe). Gambaran sederhana sekolah asrama di Inggris pada era 1950-an atau 1960-an yang mengingatkan saya pada film Oliver Twist dan sejenisnya. Seperti mungkin asumsi penonton kebanyakan, anak-anak ini pastilah yatim-piatu yang dititipkan di asrama yang serba kekurangan. Cerita mengenai bullying, persahabatan, cinta monyet, iri dengki khas anak-anak, adalah gambaran kehidupan yang jamak terjadi di asrama.

Keragu-raguan mengenai film apa sebenarnya Never Let Me Go ini muncul secara perlahan. Para murid di asrama ini diisolasi dari dunia luar dengan berbagai cerita seram sehingga saya sempat berpikir sedang menonton film horor. Namun, film bergerak terus tanpa membenarkan asumsi saya mengenai genre film ini. Tak ada hantu-hantu atau suara-suara aneh bermunculan. Gambaran kehidupan anak-anak asrama masih berlanjut tanpa kehadiran mahluk mistis. Barulah ketika salah seorang guru mereka membocorkan tentang identitas anak-anak ini, saya sadar siapa tokoh-tokoh yang sedang dituturkan kisahnya di film ini.

Anak-anak ini adalah kloning yang kelak organ tubuh mereka akan dipakai oleh manusia asli yang menciptakan mereka. Tak seperti film science fiction lainnya, film ini tak menyuguhkan teknologi canggih tentang proses kloning, transplantasi, dsb. Cerita benar-benar difokuskan pada perdebatan batin ketiga tokoh yang dibumbui oleh cinta segi tiga berlanjut sampai ke masa dewasa. Jadi, jangan berharap melihat teknonologi visual modern futuristik seperti di film The Island yang juga bercerita tentang manusia kloning.

Kehidupan dewasa ketiga tokoh utama berubah saat Tommy kecil yang pemalu kemudian pacaran dengan Ruth yang agresif. Kathy yang diperankan dengan sangat apik oleh Carey Mulligan, bungkam dan memutuskan 'bersedia bahagia' untuk kedua temannya itu walau tampak jelas bahwa Tommy dan Kathy sebenarnya saling menyukai. Di tahapan selanjutnya, saat menunggu mati (sampai manusia membutuhkan organ mereka), Kathy memutuskan bekerja sebagai carer, pendamping para kloning yang akan mendonorkan organ mereka. Dengan bahasa visual yang jalur cerita yang apik, tentu penonton tahu kalau pekerjaan seperti itu bukanlah pekerjaan yang ideal dan mudah bagi seorang kloning yang nanti juga akan mati di meja operasi. Namun keputusan Kathy adalah jalan salib yang lebih indah daripada harus terus berada di dekat pria yang ia cintai yang juga berpacaran dengan temannya sendiri.

Percintaan gagal seorang kloning yang kelak akan mati di meja bedah, tak cukup menyakitkan bagi seorang Kathy. Ia kemudian harus menjadi pendamping Ruth yang sekarat karena sudah beberapa kali mendonorkan organnya. Kenyataan itu diperparah lagi dengan kondisi Tommy yang juga sudah merasakan proses transplantasi organ. Nilai-nilai kehidupan yang layaknya ditunjukkan oleh manusia dewasa digambarkan setahap demi setahap dalam visual yang kaya makna namun dengan seminim mungkin bahasa verbal.

Kisah kasih antara Tommy dan Kathy akhirnya terajut setelah Ruth merestui hubungan mereka dan persahabatan masa kecil itupun seperti terajut ulang. Di umur mereka yang jelas tak panjang lagi, ketiganya mencoba mengorek masa lalu. Mencoba membalik lembar sejarah hidup mereka. Ketiganya kembali ke asrama di Hailsham. Namun yang mereka lihat hanyalah tanah kosong yang ditumbuhi sebatang pohon saja. Seolah Hailsham tak pernah ada, seolah mereka juga tak pernah ada. Sematinya Ruth, Tommy dan Kathy masih berusaha mendapatkan kehidupan mereka. Namun gagal. Bayangan terakhir Tommy yang terbaring di meja operasi namun masih menyuguhkan senyum pada Kathy adalah roh terkuat film ini. Cinta, perjuangan, persahabatan, telah mereka jalani sampai akhir hayat. Namun ketika semuanya berujung pada kematian, pada akhirnya mereka menang dengan cara mereka sendiri.

Bagi saya, kepasrahan adalah sikap orang lemah. Namun, Never Let Me Go membuat kata tersebut bermakna lain. Kalau Kathy berjuang dan merebut Tommy dari tangan Ruth yang agresif, tentu kita tak akan menaruh empati besar pada tokoh ini. Dan mungkin saja, ia tak akan pernah menjalani tahun-tahun penuh perjuangan saat mendampingi para donor yang sekarat. Kepasrahan juga bukanlah pilihan awal mereka. Ada perjuangan yang telah mereka lakukan sampai akhir hayat. Namun ketika dunia bukanlah tempat yang sempurna, di mana teriakan orang tertindas (walau mereka adalah mahluk kloning) tak didengar, kebisuan terdengar lebih nyaring.

Film ini mendapat banyak nominasi dan penghargaan. Para pemain dalam film ini sangat menghayati peran yang mereka bawakan. Rasanya kita harus memberikan apresiasi kepada Romanek yang berhasil mendapat orang yang tepat untuk peran-peran tersebut. Mulligan yang sederhana mampu menjadikan scene diam tanpa kata terbaca dengan jelas oleh para penonton. Sementara Knightly, mampu tampil 'jelek' dan menyedihkan, terutama di babak ketika ia sudah sekarat. Tentu saja, Andrew Garfield yang juga sukses di Social Network, mampu mengimbangi kedua aktris tersebut. Namun yang paling menarik dari film ini, tentu saja persilangan budaya yang berhasil difilmkan oleh sang sutradara. Saya yakin, para penggemar sastra dan film Jepang masih bisa merasakan roh Ishiguro, sang penulis, walau diperankan oleh aktor dan aktris Barat. Selain itu, detail visual yang sebenarnya bisa dimaknai berbeda oleh setiap orang, adalah kekuatan film ini. Memang dari segi pendapatan, Never Let Me Go tak terlalu sukses. Bahkan ketika akan dirilis oleh Fox di Festival Film Venesia, September 2010 silam, film ini harus mengalah dan digantikan oleh Black Swan. Namun, apresiasi yang lebih besar sebenarnya muncul dari kesadaran para penonton yang mampu menangkap nilai-nilai kehidupan yang tak tersuarakan secara verbal namun terdengar nyaring lewat visual yang menarik dan sarat makna. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar